Selasa, 14 Oktober 2008

HARUSNYA AKU YANG LAYAK DIKASIHANI




Dari tadi pagi hujan mengguyur kota tanpa henti, udara yang biasanya sangat panas, hari ini terasa sangat dingin. Di jalanan hanya sesekali mobil yang lewat, hari ini hari libur membuat orang kota malas untuk keluar rumah. Di perempatan jalan, Umar,seorang anak kecil berlari-lari menghampiri mobil yang berhenti di lampu merah, dia membiarkan tubuhnya terguyur air hujan, hanya saja dia begitu erat melindungi koran dagangannya dengan lembaran plastik.

“Korannya bu !”seru Umar berusaha mengalahkan suara air hujan.

Dari balik kaca mobil si ibu menatap dengan kasihan, dalam hatinya dia merenung anak sekecil ini harus berhujan-hujan untuk menjual koran. Dikeluarkannya satu lembar dua puluh ribuan dari lipatan dompet dan membuka sedikit kaca mobil untuk mengulurkan lembaran uang.

“Mau koran yang mana bu?, tanya Umar dengan riang.

”Nggak usah, ini buat kamu makan, kalau koran tadi pagi aku juga sudah baca”, jawab si ibu.

Si Umar kecil itu tampak terpaku, lalu diulurkan kembali uang dua puluh ribu yang dia terima, ”Terima kasih bu, saya menjual koran, kalau ibu mau beli koran silakan, tetapi kalau ibu memberikan secara cuma-cuma, mohon maaf saya tidak bisa menerimanya”, Umar berkata dengan muka penuh ketulusan.

Dengan geram si ibu menerima kembali pemberiannya, raut mukanya tampak kesal, dengan cepat dinaikkannya kaca mobil. Dari dalam mobil dia menggerutu ”Udah miskin sombong!”. Kakinya menginjak pedal gas karena lampu menunjukkan warna hijau. Meninggalkan Umar yang termenung penuh tanda tanya .

Umar berlari lagi kepinggir, dia mencoba merapatkan tubuhnya dengan dinding ruko tempatnya berteduh. Tangan kecilnya sesekali mengusap muka untuk menghilangkan butir-butir air yang masih menempel. Sambil termenung dia menatap nanar rintik-rintik hujan didepannya,

”Ya Tuhan, hari ini belum satupun koranku yang laku”, gumamnya lemah.

Hari beranjak sore namun hujan belum juga reda, Umar masih saja duduk berteduh di emperan ruko, sesekali tampak tangannya memegangi perut yang sudah mulai lapar. Tiba-tiba didepannya sebuah mobil berhenti, seorang bapak dengan bersungut-sungut turun dari mobil menuju tempat sampah,

”Tukang gorengan sialan, minyak kaya gini bisa bikin batuk”, dengan penuh kebencian dicampakkannya satu plastik gorengan ke dalam tong sampah, dan beranjak kembali masuk ke mobil.

Umar dengan langkah cepat menghampiri laki-laki yang ada di mobil.

”Mohon maaf pak, bolehkah saya mengambil makanan yang baru saja bapak buang untuk saya makan”, pinta Umar dengan penuh harap.

Pria itu tertegun, luar biasa anak kecil didepannya. Harusnya dia bisa saja mengambilnya dari tong sampah tanpa harus meminta ijin. Muncul perasaan belas kasihan dari dalam hatinya.

“Nak, bapak bisa membelikan kamu makanan yang baru, kalau kamu mau”

”Terima kasih pak, satu kantong gorengan itu rasanya sudah cukup bagi saya, boleh khan pak?, tanya Umar sekali lagi.

”Bbbbbooolehh” , jawab pria tersebut dengan tertegun.

Umar berlari riang menuju tong sampah, dengan wajah sangat bahagia dia mulai makan gorengan, sesekali dia tersenyum melihat laki-laki yang dari tadi masih memandanginya.

Dari dalam mobil sang bapak memandangi terus Umar yang sedang makan. Dengan perasaan berkecamuk didekatinya Umar.

”Nak, bolehkah bapak bertanya, kenapa kamu harus meminta ijinku untuk mengambil makanan yang sudah aku buang?, dengan lembut pria itu bertanya dan menatap wajah anak kecil didepannya dengan penuh perasaan kasihan.

”Karena saya melihat bapak yang membuangnya, saya akan merasakan enaknya makanan halal ini kalau saya bisa meminta ijin kepada pemiliknya, meskipun buat bapak mungkin sudah tidak berharga, tapi bagi saya makanan ini sangat berharga, dan saya pantas untuk meminta ijin memakannya ”, jawab si anak sambil membersihkan bibirnya dari sisa minyak goreng.

Pria itu sejenak terdiam, dalam batinnya berkata, anak ini sangat luar biasa.
”Satu lagi nak, aku kasihan melihatmu, aku lihat kamu basah dan kedinginan, aku ingin membelikanmu makanan lain yang lebih layak, tetapi mengapa kamu menolaknya”.

Si anak kecil tersenyum dengan manis,
”Maaf pak, bukan maksud saya menolak rejeki dari Bapak. Buat saya makan sekantong gorengan hari ini sudah lebih dari cukup. Kalau saya mencampakkan gorengan ini dan menerima tawaran makanan yang lain yang menurut Bapak lebih layak, maka sekantong gorengan itu menjadi mubazir, basah oleh air hujan dan hanya akan jadi makanan tikus.”

”Tapi bukankah kamu mensia-siakan peluang untuk mendapatkan yang lebih baik dan lebih nikmat dengan makan di restoran dimana aku yang akan mentraktirnya” , ujar sang laki-laki dengan nada agak tinggi karena merasa anak didepannya berfikir keliru.
Umar menatap wajah laki-laki didepannya dengan tatapan yang sangat teduh,

”Bapak !, saya sudah sangat bersyukur atas berkah sekantong gorengan hari ini. Saya lapar dan bapak mengijinkan saya memakannya”, Umar memperbaiki posisi duduknya dan berkata kembali,

” Dan saya merasa berbahagia, bukankah bahagia adalah bersyukur dan merasa cukup atas anugerah hari ini, bukan menikmati sesuatu yang nikmat dan hebat hari ini tetapi menimbulkan keinginan dan kedahagaan untuk mendapatkannya kembali dikemudian hari.”
Umar berhenti berbicara sebentar, lalu diciumnya tangan laki-laki didepannya untuk berpamitan. Dengan suara lirih dan tulus Umar melanjutkan kembali,

”Kalau hari ini saya makan di restoran dan menikmati kelezatannya dan keesokan harinya saya menginginkannya kembali sementara bapak tidak lagi mentraktir saya, maka saya sangat khawatir apakah saya masih bisa merasakan kebahagiaannya” .

Pria tersebut masih saja terpana, dia mengamati anak kecil didepannya yang sedang sibuk merapikan koran dan kemudian berpamitan pergi.

”Ternyata bukan dia yang harus dikasihani, Harusnya aku yang layak dikasihani, karena aku jarang bisa berdamai dengan hari ini”


HAVE A BLESSED DAY

Kritik Rio

Bek Inggris, Rio Ferdinand, mengkritik keputusan FIFA yang hanya menjatuhkan denda sebesar 15.000 pound (sekitar 250 juta rupiah) kepada Kroasia atas tindakan rasis suporternya terhadap Emile Heskey ketika kedua tim bertemu awal September lalu dalam kualifikasi Piala Dunia 2010.

Menurut bek MU ini, hukuman tersebut masih terlalu ringan untuk sebuah tindakan yang merendahkan martabat manusia.

"Tidak ada gunanya lagi memberikan hukuman model itu. Mereka pasti akan terus mengulanginya. Kondisi akan berbeda jika FIFA berani untuk mengurangi poin timnya," ujar Rio kepada AFP.

Ucapan Ferdinand tersebut ada benarnya. Pasalnya, Vatreni juga pernah mendapat hukuman serupa dari FIFA karena tindakan yang sama di Euro 2008 lalu. Saat itu yang menjadi korban adalah pemain-pemain Turki ketika kedua tim bertemu di perempatfinal. (cw-5)

Tuan Rumah PD 2018
Inggris Mulai Goyah

Setelah isu putaran internasional Premier League yang ditolak FIFA, munculnya kerusuhan di Manchester pada final Piala UEFA 2007/08, kini terbit masalah tambahan yang menggoyang peluang Inggris menjadi tuan rumah PD 2018.

Uniknya persoalan ini justru dimunculkan oleh Football Association, yang sebenarnya amat geregetan untuk mendapatkan status bergengsi di atas. Adalah Chairman FA, David Triesman, sang penyulut isu salary cap yang tengah jadi bahan omongan.

Pembatasan gaji pemain yang diajukan Triesman adalah bagian dari langkah FA untuk menjadi badan regulator sepakbola domestik yang sesungguhnya.

Hal ini juga dikaitkan dengan peran mereka untuk membuat sebuah dewan yang terdiri dari enam tokoh guna melakukan fit and proper test pada para calon investor asing di Premier League dan Football League.

Nah, di titik inilah Guardian menilai pembatasan globalisasi sepakbola bakal menjegal dukungan negara lain guna menyokong Inggris sebagai calon tuan rumah Piala Dunia. Ironisnya lagi, Triesman adalah pemimpin dewan FA yang berupaya menggolkan proyek England 2018.

"Kecenderungan iklim saat ini mengharuskan kami untuk membatasi gaji pemain. Hal ini hanya bisa dilakukan bila lembaga-lembaga olahraga disederhanakan jumlah dan fungsinya lewat ratifikasi undang-undang olahraga," jabar Triesman dalam sebuah konferensi sepakbola di Stamford Bridge, Rabu (8/10).

Semula langkah ini mendapatkan dukungan klub-klub kecil Inggris yang menilai bahwa sudah saatnya FA menjadi regulator yang berperan mengangkat golongan akar rumput Inggris ke level tertinggi di dalam negeri.

Namun, belakangan Triesman justru menjadi sosok yang kurang populer di mata para elite. Perdebatan diduga masih berlanjut hingga akhir pekan ini. (toen)

Kiprah Sejumlah Tim Unggulan
Sampai Laga Terakhir

Rasanya reputasi Ghana, Senegal, dan Maroko di peta sepakbola Benua Hitam tak layak diragukan. Nyatanya, tetap saja mereka kepayahan di putaran kedua kualifikasi Piala Dunia 2010.

Bagi para raksasa tersebut, kemenangan di laga pamungkas kini menjadi harga mati agar minimal bisa menghuni peringkat kedua di grup masing-masing. Ironisnya, jika berhasil meraup tiga poin pun, tiket lolos ke putaran berikut tidak otomatis dikantungi.

Sesuai dengan ketentuan Konfederasi Sepakbola Afrika (CAF), hanya juara grup serta delapan runner-up terbaik yang berhak melangkah ke putaran ketiga. Padahal, untuk zona Afrika, kontestan dibagi dalam 12 grup!

Untungnya, kecuali Senegal, lawan yang akan dihadapi di laga penentuan terhitung tim lemah penghuni dasar klasemen. Satu lagi, modal sebagai tuan rumah bisa menjadi keuntungan tambahan dari sisi psikologis.

Peluang terbaik dimiliki Maroko. Tim asuhan Roger Lemerre ini bisa menyodok ke puncak klasemen Grup 8, yang hanya dihuni tiga negara, bila berhasil unggul atas Mauritania, yang selama ini menjadi lumbung gol.

Ghana juga punya kesempatan yang tak kecil meski berada di peringkat ketiga Grup 5. Pasalnya, di laga terakhir, Black Stars hanya menjamu tim juru kunci, Lesotho, di Sekondi Sports Stadium, Sabtu (11/10). Di saat bersamaan, dua kontestan lain, Libya dan Gabon, harus saling bunuh.

Tanpa Essien

Tak heran optimisme begitu terasa dalam latihan timnas Ghana beberapa hari terakhir. Pelatih Milovan Rajevac pun tenang-tenang saja meski tak ada nama sejumlah pemain bintang seperti Asamoah Gyan dan Sulley Ali Muntari dalam daftar skuad terakhir.

Absennya gelandang tenaga kuda Michael Essien lantaran masih cedera juga tak membuat Rajevac panik. Apalagi, kondisi kapten tim, Stephen Appiah, semakin membaik.

"Peran Essien bisa diambil alih pemain lain. Kami juga masih memiliki beberapa hari latihan untuk memantau dan menyiapkan pemain dalam kondisi sebaik mungkin," ujar Rajevac seperti dikutip situs resmi federasi. (cw-1)

Tidak ada komentar: