Rabu, 15 Oktober 2008

The Rhythm of Life

Not too long ago I was standing on the bank of a stream watching the water slip over the rocks. The sound of the bubbling water held my attention, very soothing.

I decided to sit for a bit on the bank of the stream. A wiggle here...a wiggle there and I settled comfortably in the Earthen chair. Gazing at the stream, the sound of water over rocks soon enveloped me like surround sound.

My heartbeat, pulsing. Each in-breath; connected me to the rhythm of the stream. Each out-breath; detached me from anything outside the shorelines of the stream. In...out.... in...the cool air fills my lungs....out. ..I feel the warmth of air over my tongue...the rhythmic breathing slowed my thoughts to a trickle. Water bubbling over rocks became like lyrics; go with the flow....go with the flow. My body loosened, becoming as fluid as a lazy SSSSsssss curve. "Listen...listen. .. the rocks in the river give the river her song." As I became One with the meditative sounds of the river song...even the concept of time spilled into the flow.

A tiny speck of something... just out of the corner of my eye...this something is falling from the sky. And in that instant of awareness the connection with the water was broken.
Squinting, still mesmerized by the stream it took a moment to focus.

High from the canopy of trees a single leaf floats down. Zig... Zag. Like a pendulum the leaf sways....right. ....left. ....right. ...left.
Turned up edges toasty brown and crisp, the cupped belly of the leaf appears soft, pliable and vibrantly golden.
Like a feather, the leaf gently glides onto the surface of the water where it's quickly scooped up by the rhythm of the stream.
Watching the leaf takes me back to summer adventures and being scooped up as I splashed into the current on Michigan's Muskegon River.
Tubing with my kiddo's or free floating on the Mighty Muskegon with my husband, he looking for fish in hidden holes; those deeper safe havens for the big-one-that- got away. Me, I was in search of hidden treasures that some ancient ancestor may have left behind.

Free-floating, for me, was always the best...just like that golden leaf, gliding over the ripples, slipping over rocks, leaning into and away from the different elevations and formations.. .going with the flow.

There were times when, in those uncharted waters, I got hung up on something... .or bounced into an unforeseen boulder...OUCH! !! It rocked me momentarily. ..but usually the current and the depth of the water spit me back out into the flow again.
Now, watching that golden leaf float, dodge, hang-up, up-end and then right itself in the Mainstream reminds me of the Great Current that runs through my life.

Funny, as a kid, I loved mucking around in the slick-bottom shallows of a stream or a lake. All the neat stuff lived there; tadpoles in the spring... full-bodied frogs hidden in a flotilla of summertime pond scum, soft shelled pancake turtles dug deep in the muddy shelf bottom gave themselves away by a strand of air-bubbles surfacing to the top of the water. The shallows were always an adventure.

I almost lost that edge of curiosity by becoming comfortable. But thank goodness, some next adventure would nudge me; a new job, a business venture, "educational" pursuits that took me all over the country as well as the West Indies. Clearly, it seems, I'm to stay in the Current of the Mainstream.. .not attaching too long to any mirage, those "things" that appear to give the mainstream (small "m") security.

Suddenly an action in the stream takes me out of my headiness. The golden leaf gets tossed out of the current and into the shallows. It's hung-up on something. I can't see what's got the leaf in its grip...but it's being held in place. My urge is to go over and release it. But I'm "nudged" to simply watch.

The leaf is lodged on something... it's almost motionless. Perhaps it's reached its final destination. Perhaps it will become part of That-Which-Gives- Back. Long ago I was taught that the those still murky scum-waters was a place where other organisms would break down whatever collects there, transforming the "prisoner" into a new cycle...food, shelter for others living in the waters.

"There's a reason for everything," my mom always says.
Oh...suddenly there's more action...nothing stays the same in the current of this stream. A twig shoots out of the current. It's moving toward the shallows, taking the same path as the
leaf...an upside down V of water makes a wake behind the twig.


Like the domino effect the twig bumps into the leaf. The golden leaf bobs back and forth in the water. On the down-bob the leaf is suddenly released from the grip of the unknown. Now the twig is hooked up on the unknown. A small piece of bark flakes off the twig and hits the leaf... pushing the leaf toward the current where it begins to swirl in a slow spinning motion.

As it reaches the outer edge of the current...the leaf twirls around like a tilt-a-whirl. ..faster until the momentum carries it into the Mainstream where it's scooped up into the Pulsating Water.

I watched until the leaf was out of sight...up and over another boulder and then around the bend of the Stream's Plan.
Experiencing the emotions that flow, ripple and churn with this human event called cancer is very much like what I watched with the golden leaf. I'm riding the rapids of possibilities.

Sometimes I sit in what appears to be stagnate waters yet, these very waters slow me down to take a breath and regroup. It is here in the shallows that I confront the illusions, the very stuff that narrows my vision and separates me from the Current of Life.

The neat thing about that leaf is that something came along and freed it from the illusive grip. And like the leaf, I'm free as soon as I let loose of the idea that anything can separate me from my Source. In the autumn of my life...experiencing this very human event, I realize that it doesn't matter whether the experience is a lazy ribbon ripple or a white water boil; I just have to be willing to flow with the Current that's movin' through me.


Penting untuk selalu diingat, pikiran kita adalah sebuah kekuatan besar yang tak terlihat dan tak berwujud; sangat besar pengaruhnya di dalam hidup kita dan kita memilihnya untuk memberikan kepada kita berkah hidup, inspirasi, kebahagiaan, kesuksesan dan kedamaian. Sudah semestinyalah Anda membuat sebuah pilihan pemikiran yang benar dan bagus untuk diri Anda sendiri.

Kaitannya dengan kekuatan pikiran ini, seringkali kita mencetuskan pemikiran yang secara tidak kita sadari cenderung membuat diri kita "berhenti berkembang". Pikiran-pikiran dan ucapan-ucapan seperti, "Iya, tapi aku sudah terlalu tua", "Mungkin saja bisa, tapi itu sulit sekali", "Aku masih terlalu muda, nanti sajalah", "Iya sih, tapi itu kan bukan levelku", "Waduh, itu bukan tugasku", "Tapi itu kan masih lama, nanti-nanti sajalah", "Iya, tapi...", "Mungkin, tapi...", "Bisa saja, tapi...". "Tapi aku ini bukan dari keluarga sukses...", "Wah, kalau itu memang bukan rezekiku", "Mungkin Bintang dan Shio ku tidak cocok dengan tahun ini". "Pendidikan ku rendah, jadi aku tidak bisa...". Dan masih banyak sekali ungkapan-ungkapan serupa tadi, yang pada dasarnya tidak percaya kepada kemampuan diri sendiri; inilah yang harus diatasi dan dieliminasi dari pikiran dan ucapan kita; karena hal itu akan berpengaruh pada bagaimana cara kita bertindak nantinya.

Pengaruh buruk dari ucapan dan pemikiran seperti contoh di atas tersebut, akan mengendalikan tindakan Anda sebagaimana yang Anda pikirkan dan katakan itu. Tindakan-tindakan Anda nantinya akan terbiasa dengan tindakan yang selalu bersifat menunda-nunda segala sesuatu. Pada awalnya, kebiasaan menunda-nunda itu mungkin sedikit bisa memberi Anda sebuah perasaan lega, perasaan yang membela Anda; bahwa Anda tidak perlu terburu-buru untuk melakukan sesuatu tindakan, karena toh masih ada hari esok. Tetapi pada gilirannya nanti, kebiasaan dalam pikiran dan perkataan yang cenderung menunda-nunda itu akan membawa Anda ke dalam jurang kegagalan yang paling dalam; karena Anda tidak pernah berani memulai bertindak.

Kita sebagai manusia, sudah dikenal sebagai mahluk kebiasaan, yang segala sikap dan perilakunya selalu berdasarkan suatu tindakan terus menerus, sehingga menjadi sebuah kebiasaan. Anda bisa melihatnya sendiri di keseharian hidup Anda, bahwa kita berperilaku selalu berdasarkan kebiasaan. Contoh ringan, jika kita sudah biasa "buang air besar" di pagi hari, maka akan sulit sekali seandainya kita coba di sore hari, perlu waktu membiasakan diri lagi. Cobalah Anda lari-lari mengelilingi sebuah lapangan olah raga, biasanya Anda lari dengan arah memutar ke sebelah kiri, selalu berputarnya ke arah kiri Anda; jika Anda coba memutar dengan arah ke kanan, maka Anda akan merasakan tidak nyaman, bahkan sering malah membuat pusing kepala Anda.

Anda pasti masih ingat, bagaimana Anda mulai belajar mengendarai sepeda. Pada saat Anda mulai belajar naik sepeda, tentunya Anda beberapa kali pernah jatuh; sebabnya, pada waktu mulai belajar bersepeda itu, Anda masih belum terbiasa mengendarainya. Tetapi dengan seringnya Anda mengendarai sepeda, maka Anda akan semakin pintar dan lihai mengendalikan sepeda yang Anda naiki itu; karena dengan semakin sering Anda naik sepeda, maka Anda akan terbiasa, dan otomatis Anda semakin mahir mengendarainya.

Hal yang sama bisa Anda lihat dari cara Anda menggosok gigi, pasti Anda memakai tangan kanan jika menggosok gigi, kecuali mereka yang bertangan kidal. Jika Anda terbiasa menggosok gigi dengan tangan kanan, cobalah sekarang menggosok giginya dengan tangan kiri; apa yang Anda rasakan? Sulit bukan? Itulah contoh-contoh dari sifat kebiasaan yang ada pada diri manusia, dan sifat kebiasaan ini cenderung dominan, menguasai segala gerak langkah kita. Banyak lagi contoh lainnya di kehidupan Anda sehari-hari, coba Anda carilah sendiri itu.

Nah, hal itu akan terjadi juga jika pikiran dan ucapan Anda terbiasa berpikir dan berkata-kata yang cenderung bersifat pesimis dan negatif, maka apa yang biasa Anda pikirkan atau Anda ucapkan tersebut, akan menjadikan suatu kebiasaan untuk bertindak, dan pasti mengarah sesuai dengan kebiasaan berpikir pesimis dan negatif Anda tadi.

Supaya kebiasaan buruk seperti tersebut di atas bisa hilang, maka Anda harus berusaha menghilangkan kebiasaan buruk tadi, kemudian menggantinya dengan kebiasaan yang baik, optimis dan selalu positif, baik di dalam pikiran Anda maupun ucapan perkataan Anda. Dalam hal ini, Anda tinggal mulai membiasakan diri sendiri untuk selalu melakukan segala sesuatu dengan lebih baik lagi. "Sifat kebiasaan" manusia tersebut adalah disebabkan oleh peranan dari "kekuatan pikiran super" yang tersimpan di dalam pikiran bawah sadar, yang memang merupakan tempat bersemayam sifat kebiasaan itu. Hal penting di sini adalah: jangan Anda memercayai mitos-mitos penghambat laju perjalanan sukses Anda. Buanglah mitos buruk tersebut, kemudian gantilah dengan sesuatu yang lebih baik dan positif. Gunakanlah teknik penggambaran mental dan teknik afirmasi untuk mengubah kebiasaan buruk Anda, menjadi kebiasaan baik (ada di buku The Touch of Super Mind, tulisan saya).

Memang bukan perkara mudah untuk memulai dan membiasakan sebuah kebiasaan baru bagi kita, sebab kita sudah terbiasa melakukan kebiasaan-kebiasaan lama itu selama bertahun-tahun. Oleh karena itu, sungguh dibutuhkan keinginan dan kemauan yang kuat bagi Anda, agar Anda bisa mulai melakukan kebiasaan-kebiasaan yang lebih baik dan sesuai dengan keinginan sukses Anda nantinya. Biasakanlah diri Anda berpikir dan berkata-kata hanya yang positif, dan itu pada gilirannya akan membuat Anda bertindak sesuai dengan kebiasaan pikiran dan perkataan Anda tersebut. Hal itu pasti akan lebih bermanfaat untuk memperlancar dan mempercepat laju perjalanan sukses Anda nantinya.
Salam Luar Biasa!
http://wuryanano. blogspot. com/


Prof. Abraham Maslow, seorang psikolog modern Amerika, yang terkenal dengan
pendapatnya, atau lebih tepatnya teori motivasi "Maslow's Hierarchy of Needs",
pernah menulis buku yang didasarkan pada hasil penelitiannya. Penelitiannya adalah
tentang karyawan yang produktif dan berbahagia. Bagaimana ciri-ciri dan
sifat-sifatnya, termasuk penampilannya dalam tugas pekerjaan.

Buku tersebut berjudul: "Happiness: New Light on Old Subject". Menurut Prof.
Maslow, sifat pertama karyawan yang produktif dan bahagia di pekerjaan ialah
" Commitment to work", atau "Mencintai Pekerjaanya" . Dengan mencintai pekerjaanya
ia akan melakukan apapun yang terbaik bagi pekerjaan dan organisasi dimana ia
berada. Ia akan cukup aktif memberi pendapat dan saran, diminta atau tidak diminta,
untuk kebaikan dan perbaikan di organisasinya. Ia akan belajar terus menerus dan
melakukan perbaikan terus menerus, baik untuk pribadi, kolega maupun organisasinya.

Banyak perusahaan memiliki nilai (value) yang disebut : "continuous improvement"
yang harus dihayati oleh semua karyawannya. Karyawan yang memiliki "commitment
to work" juga mudah untuk bersosialisasi, tidak sungkan minta pendapat atau memberi
masukan - masukan dari dan kepada rekan, staffnya, atau bahkan atasannya. Ia
akan memiliki daya antisipasi yang cukup tajam: memperkirakan apa yang akan terjadi
dan siap untuk menghadapinya. Ia dengan mudah melakukan observasi dan
introspeksi akan kekuatan dan kekurangan yang ada pada dirinya dan memiliki niat
untuk selalu memperbaiki diri.

Sebagian besar waktunya dipakai untuk hal-hal yang perlu dan bermanfaat untuk
kebaikan dan perkembangan tugas pekerjaan di organisasi tempat ia bekerja. Ia juga
tidak segan mengulurkan tangan memberi bantuan pada yang membutuhkannya, baik
bantuan waktu, tenaga maupun pikiran. Semua dilakukan untuk kebaikan organisasi
atau perusahaan dan lingkungan dimana ia berada.

Prof. Kim Cameron dari Universitas Michigan menyempurnakan pendapat Prof Maslow
tersebut. Menurut penelitiannya, ada tiga jenis atau tingkat karyawan dalam
men-sikapi tugas pekerjaannya. Dia membagi karyawan dalam 3 tingkat atau 3 C.
Tingkat "Compliance", tingkat "Commitment" dan tingkat tertinggi adalah tingkat

Tingkat pertama adalah karyawan dalam tingkat " Compliance". Artinya karyawan
yang puas asal sudah patuh dan taat pada peraturan perusahaan. Tidak mangkir.
Tidak terlambat. Datang dan pulang tepat waktu. Ini karyawan yang baik tetapi masih
bersifat "minimalis". Se-adanya.

Tingkat kedua adalah karyawan dalam tingkatan "Commitment". Hal ini tidak terlalu
jauh dengan "Commitment to work" seperti yang dipaparkan oleh Prof. Maslow.
Karyawan dengan komitmen tinggi merupakan aset yang bagus untuk perusahaan.

Tingkat yang paling tinggi adalah karyawan yang menganggap tugas dan
pekerjaannya sebagai "Calling", atau "Panggilan Hidup". Dia tidak hanya bekerja demi
mendapat nafkah, kedudukan atau fasilitas. Tetapi dia menganggap tugas dan
pekerjaannya sebagai panggilan hidup, yang memberi arti bagi hidupnya didunia ini. Ia
akan berusaha bahwa tugas dan pekerjaanya menjadi bagian dari hidupnya, sebagai
bagian dari pengabdiannya. Melalui karya di Perusahaan ia akan dapat menjadi
kontributor (penyumbang) bagi Perusahaan, masyarakat, bangsa dan negara-nya.

Seorang geologist tetaplah seorang geologist kalau ia menganggap dirinya hanyalah
geologist yang meneliti batu-batuan, sedimen-sedimen atau membuat dan
menganalisa peta-peta. Tetapi dia akan menjadi sangat berharga kalau dengan
tugasnya sebagai geologist itu ia menerimanya sebagai salah satu pembangun
negerinya yang mencoba menyelidiki kekayaan alam yang diberikan Tuhan bagi
negerinya dan mengeluarkan dari kandungan bumi untuk kemakmuran negeri dan
kemuliaan Tuhan. Itulah panggilan hidupnya.

Karyawan yang menjadikan tugas pekerjaanya sebagi "panggilan hidup" atau "calling"
akan melihat bahwa "disinilah tempat terbaik bagi dirinya untuk berkarya, mengabdi,
melayani dan memberikan sumbangan yang berarti." Dan ia akan selalu
mengembangkan bakat dan talentanya, dan memberikan yang terbaik yang ada pada
dirinya dengan tulus, tidak mudah menyerah atau patah semangat. Pekerjaan adalah
kebajikan ("virtues") yang harus diberikan dalam hidupnya. Dengan kebajikan ini ia
memperoleh kebahagian dalam bekerja.

Inaki Saez
Bapak Regenerasi

Masih ingatkah Anda pada sosok Inaki Saez? Jika tidak, ini hal lumrah. Pasalnya orang mungkin lebih mengingat pria berkepala setengah botak ini sebagai pelatih yang gagal total tatkala menukangi Spanyol di Euro 2004.

Akan tetapi, di luar kegagalan dalam mengantar La Furia Roja untuk keluar dari babak penyisihan grup ini, RFEF alias federasi sepakbola Spanyol tak akan pernah melupakan sumbangsih Saez di wilayah lain.

Ya, Saez adalah "bapak regenerasi" persepakbolaan Negeri Matador. Jika bukan lantaran keberaniannya dalam memberikan promosi pada para pemain junior, mustahil nama-nama macam Carles Puyol, Xavi Hernadez, Fernando Torres, Andres Iniesta, dan David Silva bisa malang-melintang di La Seleccion.

Saez punya insting kuat dalam menemukan talenta hijau lalu mengubahnya menjadi pemain super. Praktis semua personel tim senior saat ini sempat dipoles Saez di tim U-19 dan U-21. Sebelum mengangkat mereka ke jenjang ini, ia pula yang memberikan promosi dari tim U-17.

Di tengah aksinya dalam menggembleng Xavi dkk., Saez berhasil menghadiahkan satu gelar juara dunia U-20 (1999), satu titel juara Eropa U-21 (1998), satu trofi juara Eropa U-19 (2002), dan medali perak Olimpiade Sydney 2000.

Tak bisa dimungkiri deretan kesuksesannya inilah yang mendasari RFEF untuk menaikkan kelas Saez ke tim senior di Euro 2004. Seolah ditakdirkan hanya untuk membentuk, bukan mengurus tim A, yang jauh lebih kompleks dari aspek tekanan, Saez pun otomatis mundur begitu gagal di Portugal.

Saez pun kembali ke titahnya sebagai arsitek timnas U-21. Di sini ia lagi-lagi menemukan Pepe Reina, Victor Valdes, Raul Albiol, Sergio Ramos, Diego Capel, Santi Cazorla, Cesc Fabregas, Albert Riera, David Silva, Ruben de la Red, dan Bojan Krkic. Mereka lalu “ditawarkan” ke tim senior.

Hingga saat ini, ia (dibantu Juan Ramon Lopez Caro sejak 2008) terus mencari bibit muda guna “dijual” ke La Seleccion. Kiprahnya jelas telah menjaga roda sepakbola Spanyol agar berputar dengan kesinambungan sempurna. (shr)


Mahamadou Diarra
Bayar Lunas Kritik

Suka atau tidak suka, kita harus mengakui peran sentral Mahamadou Diarra sebagai penyeimbang tim, ikut bertanggung jawab pada hadirnya dwigelar Real Madrid di dua musim terakhir. Di dua musim dengan dua pelatih berbeda itu, Diarra tampil sebanyak 33 kali dan 30 kali!

Diarra, incar gelar kedelapan. (Foto: AFP)

Toh fakta ini tak cukup untuk menghilangkan anggapan skeptis Madridistas, yang merasa gelandang asal Mali ini overrated. Ya, terlalu dibesar-besarkan. Baik soal harga 24 juta euro yang membawanya dari Olympique Lyon hingga jam terbang reguler yang dirasa belum pantas.

Pendukung fanatik Los Merengues jauh lebih menyukai jika sosok Fernando Gago atau Guti Hernandez yang berada di wilayah sentra lini tengah itu. Tapi, tidak begitu menurut versi Bernd Shuster. Sang entrenador jelas-jelas menjadikan Diarra sebagai salah satu aset terbaiknya.

Gambaran konkret bisa kita lihat dari penampilan Diarra di setiap partai yang telah dilakoni Madrid sepanjang musim 08/09. Pemain kelahiran kota Bamako, 27 tahun silam ini tampil di keenam jornada La Liga serta di dua bentrokan Liga Champion.

“Sejak mendarat banyak orang meragukan saya. Namun, saya bisa membayar lunas kritik ini lewat permainan stabil sehingga bisa dipercaya rekan serta pelatih,” kata Diarra pada AS. “Saya telah memenangi tujuh gelar liga beruntun (lima di Lyon) dan ingin mendapatkan yang kedelapan di Madrid.” (shr)

Tidak ada komentar: