Selasa, 07 Oktober 2008

Emosi: Kunci Rahasia Kebijaksanaan




Journey into the less explored universe of own mind is the most exciting and challenging adventure that only a few dare to enjoy.
- Adi W. Gunawan

Kalimat pembuka di atas adalah hasil perenungan saya dalam proses perjalanan ke dalam diri. Ternyata pikiran adalah suatu alam yang begitu luas dan sangat
jarang dijelajahi oleh kebanyakan orang. Pikiran adalah the last frontier yang menyimpan begitu banyak misteri dan keajaiban. Artikel berikut mengulas salah
satu aspek yang berhubungan dengan pikiran yaitu aspek perasaan atau emosi.

Minggu lalu saya mendapat telpon dari seorang kawan lama, sebut saja Budi, yang berkeluh kesah mengenai keadaan dirinya. Banyak hal yang ia keluhkan.
Mulai dari kondisi keuangannya, keadaan kesehatannya, keadaan keluarganya, lingkungan kerjanya dan masih banyak lagi.

“Saya stres berat nih!” keluhnya.

”Kamu berkata ’saya’ stres berat. Bagian mana dari dirimu yang mengalami stress?” tanya saya sambil mulai berusaha mengubah mental state-nya.

”Maksudmu?” kawan saya balik bertanya dan mulai terlihat bingung.

”Tadi kamu bilang bahwa kamu stress berat. Saya ingin tahu bagian mana dari dirimu yang mengalami stress berat itu?” tanya saya lagi.

”Ya benar. Saya lagi stres berat. Saya nggak ngerti pertanyaanmu,” jawab Budi semakin bingung.

”Begini Bud. Manusia terdiri dari badan dan batin. Nah, bagian mana dari dirimu yang merasakan stres? Badan? Pasti merasakan. Badanmu pasti merasa tidak
enak karena setiap bentuk emosi akan berakibat pada tubuh fisik. Selain itu yang lebih penting lagi adalah kamu perlu mengerti aspek batinmu. Batin manusia
terdiri dari empat komponen yaitu: pikiran, perasaan, ingatan, dan kesadaran,” jawab saya.

”Trus... kalau saya frustasi... bagian mana yang merasakan frustasi? Bukankah yang merasakan frustasi adalah diri saya?” tanyanya dengan penasaran.

Pembaca yang baik. Apa yang saya jelaskan berikut ini adalah ringkasan dari hasil diskusi kita mengenai perasaan atau emosi.

Setiap kali kita merasa tidak enak, secara mental, maka yang terkena sebenarnya adalah perasaan kita. Aspek perasaan inilah yang akan menderita setiap kali
kita merasakan emosi ”negatif”. Sengaja saya memberikan tanda kutip karena sebenarnya semua emosi adalah baik atau positip.

Lalu dari mana asalnya emosi? Apa hubungannya dengan kejadian yang kita alami setiap hari?

Sebelum bicara mengenai emosi saya ingin mengulas sedikit mengenai proses berpikir. Setiap kejadian yang kita alami bersifat netral. Tidak ada kejadian yang
baik ataupun buruk. Shakespeare dengan sangat indah berkata, ”There is nothing either good or bad, but thinking makes it so”. Jadi, baik atau buruknya
suatu kejadian semata-mata bergantung pada makna yang diberikan oleh pikiran kita.

Pemberian makna ini sebenarnya berlangsung sangat cepat dan terjadi di pikiran bawah sadar. Contohnya? Misalnya anda sedang mengendarai mobil dengan
santai dan tiba-tiba sebuah mikrolet menyalip anda dengan cepat dan langsung berhenti mendadak di depan anda. Anda sangat kaget dan untung masih
sempat menginjak rem sehingga tidak sampai menabrak mikrolet itu. Bagaimana reaksi anda? Pada umumnya orang akan langsung marah, memaki, atau
mengumpat si sopir mikrolet.

Ceritanya akan lain bila ternyata anda baru menang hadiah utama, sebesar Rp. 1 Milyar, dari suatu bank. Saat itu hati anda sedang gembira. Dan saat anda
disalip mikrolet, anda akan berkata, ”Kasihan ya sopir ini. Rupanya lagi ngejar setoran. Maklum ekonomi lagi sulit. Ada baiknya saya menyumbangkan sedikit
rejeki saya buat sopir malang ini.” Anda kok tidak marah?

Nah, makna yang kita berikan, dari setiap kejadian yang kita alami, selanjutnya akan mencetus/men- trigger emosi yang ada di pikiran bawah sadar. Emosi ini
selanjutnya akan menentukan respon/reaksi kita.

Tadi saya mengatakan bahwa semua emosi adalah baik. Tidak ada emosi yang negatip. Apa maksudnya? Anda mungkin heran dengan pernyataan ini. Bukankah
emosi ”marah”, ”kecewa”, ”frustasi”, dan sejenisnya adalah emosi negatif?

Sebelum saya teruskan uraian saya, saya ingin bertanya kepada anda, ”Berapa banyak kosa kata, tentang emosi, yang anda kuasai?” Banyaknya kosa kata
yang anda kuasai, mengenai emosi, mencerminkan kecerdasan emosi anda. Lho kok bisa? Umumnya orang hanya mengenal beberapa kata yang mewakili emosi.
Misalnya kata ”marah”, ”kecewa”, ”frustasi”, atau ”stres”. Karena mereka hanya menguasai beberapa kata saja maka setiap kali mengalami emosi ”negatif”
maka mereka langsung berkata, ”Saya lagi stres”. Singkat kata semua kondisi emosi dianggap stres. Benarkah demikian?

Ada banyak kata yang mewakili emosi. Misalnya sedih, stres, putus asa, kecewa, marah, senang, bahagia, frustrasi, gembira, gelisah, depresi, terluka,
iri/dengki, kesepian, rasa bosan, takut, jengkel, khawatir, cemas, rasa bersalah, tersinggung, dendam, sakit hati, rasa tidak mampu, benci, perasaan tidak
nyaman, bahagia, tersanjung, dan cinta.

Lalu apa sih gunanya emosi? Emosi sebenarnya merupakan sinyal komunikasi yang berasal dari pikiran bawah sadar. Setiap emosi mempunyai makna dan tujuan
yang sangat spesifik yang sangat bermanfaat bagi diri kita. Namun sayang, tidak banyak orang yang tahu, mau repot-repot untuk mencari tahu, atau
benar-benar mengerti makna yang terkandung dalam setiap emosi.

Misalnya emosi ”marah”. Mengapa kita marah? Marah berarti ada pengharapan kita yang tidak terpenuhi atau kita merasa telah diperlakukan secara tidak adil
oleh orang lain.

Emosi menjadi sesuatu yang negatif bila kita tidak mampu mengartikan pesan yang terkandung dalam emosi itu. Emosi berakibat negatif bila kita dikuasai
olehnya. Lalu bagaimana cara untuk bisa menguasa emosi kita? Cara mudah. Kita perlu memahami bahwa pikiran logis dan emosi tidak dapat aktif dalam waktu
bersamaan. Salah satu pasti menguasai yang lain.

Jadi, bila emosi yang dominan maka pikiran logis tidak dapat bekerja. Demikian sebaliknya. Saat pikiran logis sedang aktif maka emosi kehilangan daya
pengaruhnya. Hal ini bisa terjadi karena perasaan atau emosi sebenarnya adalah bentuk pikiran juga. Dengan mengubah pikiran maka perasaan akan berubah.

Cara paling mudah untuk menguasai dan menghilangkan pengaruh negatip suatu emosi adalah dengan melakukan analisa atau mencari tahu makna yang
terkandung dalam setiap emosi yang sedang anda rasakan.

Misalnya anda sangat marah. Daripada larut dalam kemarahan anda, lakukan analisa. Hal ini memang tidak mudah. Namun anda harus disiplin untuk memaksa
diri anda melakukan analisa. Caranya? Tanyakan kepada diri anda, ”Mengapa saya marah?”, ”Apakah karena mood saya lagi nggak enak atau ada sebab lain?”,
”Apakah benar saya telah diperlakukan tidak adil oleh orang lain?”, ”Apakah benar emosi yang saya rasakan saat ini adalah emosi marah?”, ”Apakah saya telah
memberikan makna yang tepat atas apa yang saya alami?”, Apa yang saya bisa lakukan selain larut dalam kemarahan?”

Saat anda bertanya pada diri anda saat itu pula fokus anda mulai beralih. Saat anda mencari jawaban atas pertanyaan anda saat itu pula pikiran logis anda
bekerja dan menjadi dominan. Bila anda sering melakukan analisa terhadap perasaan anda maka anda akan semakin mengenali diri anda dan akan timbul
kebijaksanaan.

Bagaimana dengan emosi takut? Perasaan takut adalah suatu emosi yang sangat positif. Apa maknanya? Emosi takut adalah sinyal komunikasi yang dikirim
pikiran bawah sadar ke pikiran sadar dengan pesan bahwa akan terjadi sesuatu di masa depan, di mana anda merasa tidak siap untuk menghadapinya. Dengan
kata lain, emosi takut sebenarnya membawa pesan ”antisipasi”.

Misalnya? Saat anda mau ujian skripsi. Anda merasa takut. Nah, daripada hanya sekedar ketakutan, anda harus menyiapkan diri dengan sungguh-sungguh.
Anda takut karena anda merasa tidak siap. So... siapkan diri anda dengan lebih baik. Sederhana, kan?

Bagaimana dengan emosi lainnya? Misalnya rasa bosan. Rasa bosan artinya apa yang kita lakukan sekarang ini kurang menantang. Itulah sebabnya kita bosan.
Lalu, apa yang harus dilakukan? Kita perlu menetapkan suatu target yang sedikit lebih tinggi dari biasanya sehingga kita merasakan tantangan dan dorongan
untuk lebih giat bekerja.

So, berbahagialah bila anda yang merasakan up and down suatu emosi. Anda akan semakin bijaksana karena mendapat pesan dari guru kebijaksanaan.

Oh ya, satu hal lagi. Kalaupun anda tidak mau menganalisa atau tidak tahu makna dari suatu emosi yang sedang anda rasakan, anda cukup berdiam diri atau
menahan diri untuk tidak menuruti emosi anda. Mengapa? Karena emosi sama dengan pikiran. Sekarang muncul, selang beberapa saat lagi akan menghilang.
Muncul lagi, lalu hilang lagi.

"When you judge another, you do not define them, you define yourself."
Wayne Dyer
Psychotherapist, Author and Speaker

Tidak ada komentar: